Waduh, Indonesia Ternyata Penghasil Sampah Makanan Terbesar Kedua di Dunia

erfan erlin ยท Rabu, 05 Oktober 2022 - 17:11:00 WIB
Waduh, Indonesia Ternyata Penghasil Sampah Makanan Terbesar Kedua di Dunia
Workshop Teknis Regional Food Loss and Waste (FLW) di Yogyakarta, Rabu (5/10/2022). (Foto : MPI/erfan erin))

YOGYAKARTA, iNews.id - Indonesia menduduki rangking penghasil sampah makanan terbanyak kedua di dunia. Indonesia hanya di bawah Saudi Arabia yang paling banyak menyia-nyiakan makanan sehingga tersisa.

Kepala Balitbang Kementan RI, Fadjry Djufry mengatakan, berdasarkan penelitian yang mereka lakukan ternyata food waste (sampah makanan) Indonesia mencapai 344 kg/kapita/year. Jumlah tersebut terbesar kedua setelah Saudi Arabia.

"Ini menjadi sebuah keprihatinan kita semua,"kata dia, Rabu (5/10/2022) di sela workshop Teknis Regional Food Loss and Waste (FLW) dengan tema 'What Reduction on Food Loss and Waste can and must contributed to Sustainable Intensification' di Yogyakarta.

Ia mengakui masih banyak sampah makanan yang terbuang sia-sia. Penyebabnya karena perilaku masyarakat itu sendiri dalam mengkonsumsi makanan. Seringkali masyarakat Indonesia serakah dalam mengambil makanan.

Dia mencontohkan, di pesta perkawinan misalnya. Biasanya para tamu mengambil semua makanan karena ingin mencicipi semuanya. Namun makanan yang berlebih tersebut tidak mereka makan semuanya sehingga masih banyak yang tersisa.

"Masih sering terjadi kalau pesta ambil berlebihan sehingga banyak yang terbuang. Kalau di Jerman itu berlebihan maka akan didenda," ujarnya.

Selain itu, angka los makanan atau makanan yang hilang mulai dari saat budidaya sampai konsumsi ternyata juga masih tinggi. Pihaknya mencatat angka loss food sejak budidaya hingga konsumsi masih mencapai 13 persen. 

Oleh karenanya, Kementrian Pertanian terus mendorong petani menggunakan tehnologi terutama ketika panen. Sehingga tidak ada lagi panenan yang terbuang akibat belum ada mekanisasi dalam upaya memanen tanaman mereka.

"Sekarang sudah menggunakan mesin alat panen sehingga ada penurunan dari 13 persen menjadi 5 persen bahkan malah 3 persen. Jika terus ditekan maka produktifitas petani akan semakin meningkat,"kata dia. 

Saat ini pihaknya memang tengah menggalakkan upaya menekan food lost dan waste food. Tujuannya tentu adalah produktifitas meningkat sehingga penghasilan para petanipun juga mengalami peningkatan.

Editor : Ainun Najib

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: