Tari Bedhaya Ketawang, Dianggap Sakral dan hanya Dipentaskan Setahun Sekali
YOGYAKARTA, iNews.id- Tari Bedhaya Ketawang berbeda dengan tari lainnya. Tari ini tidak bisa dipentaskan sembarangan.
Tari Bedhaya Ketawang merupakan tarian kebesaran yang hanya dipentaskan saat penobatan serta peringatan kenaikan tahta raja di Kasunanan Surakarta.
Ini adalah tarian sakral dan dianggap suci bagi masyarakat dan Kasunanan Surakarta.
Nama Tari Bedhaya Ketawang berasal dari kata bedhaya yang berarti penari wanita di istana. Kemudian ketawang yang berarti langit yang identik sesuatu yang tinggi, kemuliaan dan keluhuran.
Jumlah penari Bedaya Ketawang juga tidak sembarangan. Tari Bedhaya Ketawang
dibawakan oleh sembilan gadis.
Ada beberapa spesifikasi pada tari Bedaya Ketawang ini. Di antaranya tari ini hanya dipentaskan setahun sekali pada saat upacara ulang tahun penobatan raja. Praktis tari ini hanya dipentaskan setahun sekali.
Kemudian untuk latihannya diadakan setiap 35 hari sekali pada hari Selasa Kliwon atau Anggoro Kasih. Tak hanya itu, latihan juga tidak bisa digelar di tempat sembarangan namun di tempat khusus yakni di Pendapa Ageng Sasanasewaka.
Sejarah Tari Bedhaya Ketawang, tarian ini berawal di masa Sultan Agung saat memerintah kesultanan Mataram tahun 1613 – 1645.
Konon, Sultan Agung melakukan semedi. Saat tengah melakukan ritual itu Sultan Agung mendengar suara senandung dari arah langit, Sultan Agung pun terkesima dengan senandung tersebut.
Dia kiemudian memanggil para pengawalnya dan menyampaikan apa yang terjadi. Dari peristiwa dalam semedi itulah Sultan Agung menciptakan tarian yang diberi nama Bedhaya Ketawang.
Versi lainnya dalam sejarah Tari Bedhaya Ketawang dalam pertapaannya Panembahan Senopati bertemu dan memadu kasih dengan Ratu Kencanasari alias Kangjeng Ratu Kidul. Peristiwa itu yang kemudian menjadi cikal bakal tarian ini.
Namun pada tahun 1755 setelah perjanjian Giyanti dilakukan pembagian harta warisan Kasultanan Mataram kepada Pakubuwana III dan Hamengkubuwana I.
Tak hanya pembagian wilayah, dalam perjanjian Giyanti tersebut juga dilakukan pembagian warisan budaya. Tari Bedhaya Ketawang akhirnya di berikan kepada Kasunanan Surakarta.
Hingga saat ini tarian ini tetap dipentaskan pada saat penobatan dan upacara peringatan kenaikan tahta sunan Surakarta.
Gerak Tari Bedhaya Ketawang ini mengisahkan hubungan asmara antara Kangjeng Ratu Kidul dengan Raja Mataram.
Kisah ini diwujudkan dalam tarian. Senandung dalam tembang pengiring tarian ini menggambarkan curahan hati Kangjeng Ratu Kidul kepada sang raja.
Tarian ini secara khusus dibawakan oleh sembilan gadis cantik. Masyarakat mempercayai jika di setiap pertunjukan Tari Bedhaya Ketawang ini Kangjeng Ratu Kidul hadir secara langsung dan ikut menari sebagai penari kesepuluh.
Editor: Ainun Najib